Wednesday, 24 August 2016

Hampir 2 Tahun Murdianto Terantai di Gubuk Kecil


Murdianto (35) terpaksa dirantai karena sering membahayakan orang lain

BANDARLAMPUNG,  Sebuah gubuk kecil berdinding papan beratapkan asbes tampak terlihat di persimpangan jalan Desa Simpang Mesuji Kecamatan Simpang Pematang Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung.
Di dalam gubuk itu ada seorang laki-laki berambut gondrong dan telanjang dada mengenakan celana panjang yang nampak kusam. Tatapan Murdianto (35), begitu namanya,  hampa sambil memegang ikatan rantai yang melilit di kaki kirinya.
Lelaki yang juga disapa Riyan ini, sudah hampir 2 tahun tinggal dalam gubuk sendirian dan dalam keadaan dirantai.
Widodo, seorang warga mengatakan, Murdianto makan, tidur bahkan buang kotoran di dalam gubuk kecil. Sehingga dari dalam gubuk itu tercium aroma tidak sedap.
"Sesekali ibunya memberikan air untuk keperluan MCK dan menyiram kotorannya dari luar gubuk yang dihuni Riyan," katanya.
Sementara sang ibu, Sri Miyati (56) mengatakan, putra bungsunya sudah 15 tahun mengalami gangguan jiwa.
"Saya sendiri yang meminta warga untuk merantai dan menempatkan putra saya di kandang karena jika sedang kumat bisa membahayakan orang lain," kata Sri pada Kompas.com ketika ditemui seminggu lalu.
Riyan bahkan pernah membacok kakaknya sendiri hingga kepalanya harus dijahit sampai 18 jahitan.
"Dulu kumatnya masih jarang, masih bisa ikut orang kerja angkat-angkat batu, tapi tiba-tiba suka diam sendiri dan ngamuk," tuturnya.
Menurut Sri, dirinya sudah berusaha mengobari Riyan. Bahkan setiap hari, dia mengonsumsi 12 butir obat dari puskesmas. Namun, beberapa bulan dirantai serumah dengan ibunya dan kemudian ketika sadar dilepas kembali.
"Tapi lama-lama saya tidak tahan, kumatnya semakit sering, saya berapa kali mau dibunuhnya, sejak saat itu saya merasa perlu merantai permanen," katanya lagi.
Sri bercerita, gangguan jiwa anaknya itu berawal dari terjatuh dari pohon sengon setinggi 7 meter karena mengambil layang-layang 15 tahun silam. "Dia sudah koma lama sekali tetapi Tuhan masih memberi umur pada anak saya," ujarnya.
Sri yang kesehariannya buruh masak dan menjual tanaman yang ada di pekarangan rumahnya, mengurus Riyan dengan dihantui kekhawatiran.
"Terkadang saya berdoa agar Tuhan tidak mencabut nyawa saya dulu, siapa nanti yang mau urus anak saya? Rasanya arwah saya tidak tenang di sana," tutur Sri sambil menyeka air mata.
Sri pun berharap anaknya bisa dirawat dengan layak sehingga bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang.

No comments:

Post a Comment