
Bakal calon gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, saat ditemui wartawan di Tanjung Duren, Jakarta Barat, Jumat (6/5/2016).
JAKARTA, Sebelum bertemu Ketua Umum
Gerindra Prabowo Subianto
dan sejumlah petinggi PKS di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan, Rabu (21/9/2016) siang, bakal calon gubernur DKI Jakarta,
Sandiaga Uno, membawa berjilid-jilid buku survei yang telah dicetak massal oleh stafnya.
Survei itu berisi data terakhir elektabilitas para kandidat gubernur
DKI Jakarta, yang dirilis oleh lembaga survei Poltracking Indonesia.
"Pak Prabowo minta saya siapkan bahan untuk dipresentasikan," katanya kepada
Kompas.com.
Kurang dari 48 jam menjelang pendaftaran, penantang pasangan
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan
Djarot Saiful Hidayat belum juga dipastikan.
Sandiaga yang selama enam bulan terakhir bekerja keras mengenalkan
namanya ke warga Jakarta harus meyakinkan para partai yang tidak
mendukung Ahok agar berkoalisi dan mengusungnya.
Survei teranyar dari Poltracking Indonesia pun jadi senjatanya.
Survei itu menunjukkan elektabilitas Ahok mencapai 40,7 persen, disusul
Wali Kota Surabaya
Tri Rismaharini dengan 13,8 persen,
Sandiaga Uno dengan 9,2 persen, mantan Mendikbud
Anies Baswedan dengan 8,9 persen, pakar hukum tata negara
Yusril Ihza Mahendra dengan 4,6 persen, dan Ustaz Yusuf Mansur dengan 3,3 persen.
"Bu Risma sudah jelas enggak
nyalon. Untuk pertama kalinya, saya
nyusul Pak Gubernur, dari enam bulan lalu nama saya masih 0,01 persen. Ingat kan?" katanya kepada
Kompas.com, Rabu malam.
Malam itu, partai-partai yang bukan pendukung Ahok mengadakan pertemuan di rumah Ketua Umum Partai
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Di sana, Sandiaga mendengar bongkar pasang nama dilakukan SBY bersama Ketua Umum PKB
Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.
Mereka berusaha merumuskan skenario untuk menantang Ahok yang tak
kunjung terfinalisasi hingga dini hari. Sandiaga menunggu dengan gundah
sebab muncul skenario ia akan tetap diusung, tetapi sebagai calon DKI 2.
"Oke kalau saya nomor dua, nomor satunya siapa? Kan harus yang jauh
lebih hebat dari saya, yang surveinya di atas saya, iya dong," kata
Sandiaga.
Jika mengacu pada survei Poltracking,
PDI-P
yang sudah mengusung Ahok-Djarot tak mungkin lagi mengusung Risma.
Sementara itu, nama Yusril yang sempat dipertimbangkan poros Cikeas,
elektabilitasnya di bawah Sandiaga.
Sandiaga sempat bertanya-tanya mengapa para elite politik meragukan dirinya masuk dalam figur yang berpotensi mengalahkan Ahok.
Kata Sandiaga, hal itu mungkin karena Sandiaga baru terjun ke
politik, belum matang pemahamannya soal politik, dan terbilang sangat
muda sebagai salah satu pengusaha tersukses di Indonesia.
Nama Anies muncul
Sandiaga juga sempat bertemu dengan
Anies Baswedan
yang namanya belakangan muncul dalam survei Pilkada DKI. Sandiaga
menanyakan kesiapan Anies maju bersama dirinya, baik sebagai cagub
maupun cawagub.
Sebab, dalam survei yang sama, ketika Ahok-Djarot melawan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Anies Baswedan, yang dipasangkan dengan Sandiaga, selisihnya sangat tipis.
Pasangan Ahok-Djarot mendapatkan elektabilitas 37,9 persen dan Anies-Sandiaga sebesar 36,4 persen.
Ketika dirilis sepekan lalu pada Kamis (15/9/2016), Sandiaga puas
bukan main sebab apa yang dielu-elukannya selama ini sesuai dengan data
survei Poltracking.
Sebanyak 23 persen responden menilai pemerintahan Ahok-Djarot belum
berhasil membuat harga bahan pokok di Jakarta dapat dijangkau
masyarakat. Begitu juga soal penanganan banjir, mengurangi angka
kemiskinan, serta penyediaan lapangan kerja baru, dinilai masih jauh
dari berhasil.
Terlepas siapa pun gubernur dan wakil gubernurnya, hasil survei itu
menyebutkan sebanyak 25 persen responden menginginkan agar pemerintahan
yang baru mampu mengendalikan harga bahan pokok.
Sebanyak 23 persen responden menginginkan agar pemerintah mampu
menyediakan lapangan kerja baru, dan 7,2 persen responden menginginkan
agar pengangguran bisa diatasi.
Survei dilangsungkan Poltracking pada 6-9 September 2016 dengan menggunakan metode
multistage random sampling terhadap 400 responden. Tingkat
margin of error sebesar 4,59 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
"Data enggak akan bohong, benar kan apa yang saya bilang selama ini?" kata Sandiaga seraya tersenyum.
Sandiaga memastikan ia tak memengaruhi atau terlibat dalam survei
itu. Ia sendiri memiliki survei dari konsultan yang tak pernah
dirilisnya.
"Nanti kalau kami rilis survei internal dibilang ya jelas saja karena bayar, tetapi ini surveinya Hanta
lho," kata Sandiaga merujuk ke Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha.
Kabarnya, Prabowo dan SBY masing-masing sudah memegang satu bundel
hasil survei itu. Mereka pun kini masing-masing tengah memfinalisasi
keputusan siapa yang akan diusung untuk menantang Ahok.