Wednesday, 21 September 2016

PBB Tangguhkan Suplai Bantuan ke Suriah, Warga Terancam Mati Kelaparan


Sebagian dari konvoi bantuan PBB dan Bulan Sabit Merah Suriah yang selamat dari serangan udara pada Senin (19/9/2016) malam.

NEW YORK, - Suriah jatuh kembali ke dalam pertumpahan darah sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menangguhkan konvoi bantuan ke negara itu, Selasa (20/9/2016).
Rusia dan AS menjadi sasaran tembak sebagai pelaku serangan udara dalam dua sepekan terakhir, yang menyebabkan gencatan senjata singkat berakhir tanpa perpanjangan.
Washington menuding Rusia telah melakukan serangan mematikan terhadap konvoi truk bantuan kemanusiaan PBB dan Bulan Sabit Merah Suriah pada Senin (19/9/2016).
Serangan terjadi ketika konvoi bantuan sedang begerak menuju kota Orum al-Kubra, yang didera kelaparan hebat di Suriah, setelah berulan-bulan terkepung perang.
Menurut PBB, 18 truk dari seluruhnya 31 truk yang berada dalam konvoi bantuan itu hancur akibat serangan udara pada Senin malam.
Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) melaporkan, 12 relawan Bulan Sabit Merah dan pengemudi truk tewas.
Penyerangan dari udara terhadap konvoi truk bantuan kemanusiaan itu oleh AS dikategorikan sebagai ‘kejahatan perang’ dan terjadi tiga hari setelah Rusia mengecam serangan udara AS.
Tiga hari sebelumnya, Moskwa marah karena serangan udara AS menewaskan puluhan tentara Suriah yang sedang berperang melawan kelompok garis keras atau teroris.
Washington mengatakan, telah menyampaikan penyesalan atas serangan yang dinilainya salah atau tidak tetap sasaran itu. AS bermaksud menyerang kelompok teroris, tetapi menyasar tentara Suriah.
Washington dan Moskwa adalah sponsor bersama upaya internasional untuk memberlakukan gencatan senjata dalam perang saudara di Suriah demi membuka kembali dialog damai.
Pengecut
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon membuka perdebatan majelis umum dengan imbauan untuk mengakhiri konflik di Suriah.
Ban yang untuk terakhir kalinya membuka pertemuan tahunan sidang Majelis Umum PBB meluapkan kemarahan yang sudah dipendamnya selama bertahun-tahun.
Ia bernada tinggi kepada para pemimpin dan negara yang telah menimbulkan penderitaan dan konflik di seluruh dunia, secara khusus kepada Presiden Suriah Bashar Al Assad.
 
Omran Dagneesh (5) duduk termangu di dalam ambulans setelah selamat dari serangan udara pemerintah Suriah di kota Aleppo.
Terutama terkait dengan serangan udara terhadap konvoi bantuan kemanusiaan yang menewaskan puluhan orang itu. “Ketika kita mengira situasi tidak akan bertambah buruk, tingkat kebejatan anjlok lebih jauh lagi,” ujar Ban.
Ditambahkannya, “Petugas bantuan kemanusiaan yang menyampaikan bantuan untuk menyelamatkan nyawa adalah pahlawan. Mereka yang mengebom adalah pengecut.”
“Transisi politik sudah lama berakhir. Setelah terjadi begitu banyak aksi kekerasan dan ketidak-efesienan dalam pemerintahan, masa depan Suriah seharusnya tidak tergantung pada satu orang saja," tegas Ban merujuk pada Assad.
Sekjen PBB itu juga menunjukkan ‘’penyesalan dan kesedihan’’ terhadap dua penderitaan yang terjadi pada masa kepemimpinannya yaitu wabah kolera di Haiti, dan pelanggaran serta eksploitasi seksual warga sipil oleh pasukan asing dan PBB di Afrika.
Penghentian pengiriman bantuan jelas merupakan masalah besar. Puluhan dan bahkan ratusan ribu warga yang terkepung perang di sejumlah kota di Suriah terancam mati kelaparan.
Warga sudah berbulan-bulan tidak memiliki akses terhadap bahan pokok.
Puluhan ribu warga Orum al-Kubra yang kelaparan kini terpaksa tak tertolong lagi karena konvoi truk ke kota itu telah diserang. Kelaparan mengancam nyawa mereka.

No comments:

Post a Comment