Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menghadiri acara GIIAS 2016,di Indonesia Convention Exibition (ICE) BSD City Tangerang, Kamis (11/8/2016). Pameran otomotif international ini akan berlangsung 11-21 Agustus.
JAKARTA, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan kebijakan penguasa menjadi salah satu hal penting di dalam mempertahankan sebuah pemerintahan dan negara. Tanpa ada kebijakan yang tepat, negara kaya pun dapat hancur dengan mudah.
Hal itu disampaikan Kalla saat memberikan sambutan kepada peserta
Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) Lemhanas di Istana Wapres,
Selasa (30/8/2016).
Menurut Kalla, selain kesalahan di dalam mengambil kebijakan, kasus hukum seperti korupsi juga dapat membuat sebuah negara jatuh.
“Banyak negara jatuh karena kebijakannya. Dan selalu kebijakan yang keliru ada korupsinya,” ujar Kalla.
Ia mencontohkan, Venezuela selama ini dikenal sebagai negara penghasil minyak terbesar di dunia. Hampir 95 persen pemasukan negara tersebut berasal dari penjualan minyak.
Ketika harga minyak tinggi, Presiden Venezuela saat itu, Hugo Chavez membuat kebijakan yang mengobral minyak dengan cara menjual komoditi itu lebih murah dari pasaran. Ketika harga minyak rendah seperti saat ini, Venezuela baru merasakan dampaknya.
“Cari makan saja susah. Negara yang begitu kaya, jadi begitu miskin. Apa yang salah? Kebijakan yang diambil dulu,” ujar dia.
“Begitu minyak turun dan miskinlah Venezuela itu dan negaranya tidak punya ketahanan. Untuk beli makan saja harus ke Kolombia. Kita berharap itu tidak terjadi di negeri yang besar kita ini,” lanjut dia.
Indonesia, kata dia, dapat bertahan meski harga minyak dunia mengalami fluktuasi. Dengan mengimplementasikan kebijakan penyesuaian harga, pemerintah berupaya menyelamatkan negara.
“Itulah kebijakan. Itulah penting untuk kita ketahui salah kebijakan dan korupsi sekian tahun terjadi dua-duanya banyak negara hancur,” kata dia.
Menurut Kalla, selain kesalahan di dalam mengambil kebijakan, kasus hukum seperti korupsi juga dapat membuat sebuah negara jatuh.
“Banyak negara jatuh karena kebijakannya. Dan selalu kebijakan yang keliru ada korupsinya,” ujar Kalla.
Ia mencontohkan, Venezuela selama ini dikenal sebagai negara penghasil minyak terbesar di dunia. Hampir 95 persen pemasukan negara tersebut berasal dari penjualan minyak.
Ketika harga minyak tinggi, Presiden Venezuela saat itu, Hugo Chavez membuat kebijakan yang mengobral minyak dengan cara menjual komoditi itu lebih murah dari pasaran. Ketika harga minyak rendah seperti saat ini, Venezuela baru merasakan dampaknya.
“Cari makan saja susah. Negara yang begitu kaya, jadi begitu miskin. Apa yang salah? Kebijakan yang diambil dulu,” ujar dia.
“Begitu minyak turun dan miskinlah Venezuela itu dan negaranya tidak punya ketahanan. Untuk beli makan saja harus ke Kolombia. Kita berharap itu tidak terjadi di negeri yang besar kita ini,” lanjut dia.
Indonesia, kata dia, dapat bertahan meski harga minyak dunia mengalami fluktuasi. Dengan mengimplementasikan kebijakan penyesuaian harga, pemerintah berupaya menyelamatkan negara.
“Itulah kebijakan. Itulah penting untuk kita ketahui salah kebijakan dan korupsi sekian tahun terjadi dua-duanya banyak negara hancur,” kata dia.
No comments:
Post a Comment