Thursday, 17 March 2016

Menurut Ahok, Kesalahan Kontraktor Asal Jepang Sebabkan Molornya Pengoperasian MRT


Suasana sepi di Proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dekat Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan pada Jumat (1/1/2016)

JAKARTA,  Pengoperasian moda transportasi massal berbasis rel, mass rapid transit (MRT) diprediksi molor dar target yang ditentukan.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, pengoperasian MRT kemungkinan terlambat karena belum rampungnya pembebasan jalur layang.

"MRT masih sesuai progress, cuma pembebasan tanah yang atas (layang) saja yang belum. Mungkin konstruksinya selesai tahun 2018 dan operasionalnya pada 2019," kata Basuki, di Balai Kota, Jumat (18/3/2016).

Sebelumnya, MRT ditargetkan beroperasi pada 2018. 

Selain pembebasan jalur layang yang belum rampung, pengoperasian MRT diperkirakan terlambat dari target karena adanya kesalahan teknis yang dilakukan kontraktor asal Jepang.

"Ada kemarin kontraktor agak ngaco sudah saya keluarin. Kontraktor yang dari Jepang enggak benar juga, katanya ada 57 green box yang salah cetak," kata Basuki.

Sejauh ini, pembangunan MRT koridor Lebak Bulus-Bundaran HI sudah masuk tahap konstruksi fisik. Ada 13 stasiun dan 1 depo di sepanjang koridor ini.

Ke-13 stasiun itu terdiri dari 7 stasiun layang (Lebak Bulus-Fatmawati-Cipete Raya-Haji Nawi-Blok A-Blok M-Sisingamangaraja) dan 6 stasiun bawah tanah (Senayan-Istora-Bendungan Hilir-Setiabudi-Dukuh Atas-Bundaran HI).

No comments:

Post a Comment