Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat berbincang dengan Kepala BBWS Citarum Yudha Mediawan di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Selasa (29/3/2016)
BANDUNG, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum berencana membangung bendungan sampah di sejumlah titik aliran sungai menuju Citarum.
Kepala BBWS Citarum Yudha Mediawan mengungkapkan, bendungan itu idealnya terpasang di daerah perbatasan.
"Sebaiknya (dibangun) di ujung perbatasan karena di sana banyak penduduk. Tapi kita jangan memilah-milah. Gimana pun itu tugas bersama, mau di kota atau kabupaten," kata Yudha usai menggelar rapat dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Selasa (29/3/2016).
Dia menjelaskan, trash rack atau bendungan sampah bekerja seperti saringan yang digerakan secara berputar oleh motor penggerak.
"Jadi kalau di sungai dia berdiri, bergerak naik turun. Nantinya sampah terangkut ke atas begitu balik kan jatuh. Dibawa oleh karet ban berjalan yang membawa sampah ke pinggir. Jadi nanti dump truck tinggal ambil," ucapnya.
Dia menjelaskan, satu titik bendungan sampah bisa menghabiskan dana sekitar Rp 20 miliar. Namun, pihaknya sedang berupaya mencari teknologi yang lebih murah.
"Trash rack ini cukup mahal ya. Tapi kita coba yang desainnya lebih murah buatan lokal misalnya. Kami pakai kemarin buatan Korea dipakai di Cibeet dekat Karawang, harganya hampir Rp 20 miliar," tuturnya.
Dia berharap, pembangunan trash rack bisa terealisasi secepatnya. Menurut dia, upaya itu bisa meminimalisir luapan sampah di badan sungai Citarum.
"Keinginan kami semua sungai masuk Citarum (dipasang trash rack) terutama yang padat penduduknya. Sehingga tidak mencemari atau memberi beban sungai Citarum. Karena sungai Citarum semakin dangkal," jelasnya.
"Sebaiknya (dibangun) di ujung perbatasan karena di sana banyak penduduk. Tapi kita jangan memilah-milah. Gimana pun itu tugas bersama, mau di kota atau kabupaten," kata Yudha usai menggelar rapat dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Selasa (29/3/2016).
Dia menjelaskan, trash rack atau bendungan sampah bekerja seperti saringan yang digerakan secara berputar oleh motor penggerak.
"Jadi kalau di sungai dia berdiri, bergerak naik turun. Nantinya sampah terangkut ke atas begitu balik kan jatuh. Dibawa oleh karet ban berjalan yang membawa sampah ke pinggir. Jadi nanti dump truck tinggal ambil," ucapnya.
Dia menjelaskan, satu titik bendungan sampah bisa menghabiskan dana sekitar Rp 20 miliar. Namun, pihaknya sedang berupaya mencari teknologi yang lebih murah.
"Trash rack ini cukup mahal ya. Tapi kita coba yang desainnya lebih murah buatan lokal misalnya. Kami pakai kemarin buatan Korea dipakai di Cibeet dekat Karawang, harganya hampir Rp 20 miliar," tuturnya.
Dia berharap, pembangunan trash rack bisa terealisasi secepatnya. Menurut dia, upaya itu bisa meminimalisir luapan sampah di badan sungai Citarum.
"Keinginan kami semua sungai masuk Citarum (dipasang trash rack) terutama yang padat penduduknya. Sehingga tidak mencemari atau memberi beban sungai Citarum. Karena sungai Citarum semakin dangkal," jelasnya.
No comments:
Post a Comment