JAKARTA,
Komisi Pemberantasan Korupsi menahan Edison Marudut Marsadauli Siahaan,
yang merupakan tersangka dalam kasus dugaan pemberian hadiah atau janji
terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau Tahun 2014
kepada Kementerian Kehutanan.
"Ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat," ujar pengacara Edison, Kutut Layung Pambudi di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (4/8/2016).
Edison merupakan pihak swasta yang dijadikan tersangka dalam
pengembangan kasus yang dulu menjerat mantan Gubernur Riau Annas Maamun.
Dalam kasus ini, Edison diduga sebagai pihak pemberi gratifikasi
kepada Annas terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau
tahun 2014 kepada Kementerian Kehutanan.
Selain Annas dan Edison, sebelumnya kasus ini juga menjerat Ketua
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Riau Gulat Medali Emas
Manurung.
Atas perbuatannya, Edison disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a
atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Penetapan Annas dan Gulat sebagai tersangka bermula dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada September 2014.
Saat itu, KPK menangkap Annas dan Gulat di Perumahan Citra Grand Cibubur, Jakarta Timur.
Saat OTT, KPK menemukan barang bukti uang senilai 156 ribu dolar
Singapura dan Rp 500 juta yang diduga merupakan uang pemberian Gulat
untuk pengurusan izin alih fungsi lahan hutan untuk kebun kelapa sawit
di Provinsi Riau.
Keduanya telah divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor. Gulat
divonis tiga tahun penjara dan denda sebesar Rp 100 juta subsider tiga
bulan kurungan. Sedangkan Annas divonis enam tahun penjara dan denda
sebesar Rp 200 juta subsider dua bulan kurungan.
No comments:
Post a Comment