Ratusan masyarakat saat menyaksikan pertunjukan barongsai dalam rangkaian kegiatan Cap Go Meh di Vihara Dharma Ramsi, Jalan Cibadak, Kota Bandung, Sabtu (5/3/2016)
BANDUNG, Ratusan warga Kota Bandung tumpah ruah ke jalan untuk mengikuti perayaan Cap Go Meh di Vihara Dharma Ramsi, Jalan Cibadak, Kota Bandung, Sabtu (5/3/2016).
Perayaan Cap Go Meh di Bandung seharusnya digelar di hari ke-15 setelah tahun baru Imlek 2567, atau pada 8 Februari 2016 lalu.
Namun acara itu terpaksa diundur lantaran terbentur sejumlah kendala. Kendati begitu, perhelatan Cap Go Meh tetap berlangsung meriah.
Menurut Koordinator bidang kesenian Vihara Dharma Ramsi, Erik Mintarja, Cap Go Meh tahun ini mengusung misi kebersamaan dengan mengombinasikan budaya Tionghoa dan Sunda.
Tak hanya itu, kata Erik, tahun ini banyak warga etnis Sunda yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
"Kita ini kebanyakan adalah orang Sunda, bahkan orang Tionghoanya cuma sedikit yaitu saya sendiri di antaranya," ujar Erik di sela acara tersebut.
Berdasarka pantauan Kompas.com, ratusan orang memadati kawasan Cibadak yang sengaja disterilkan dari lalu lalang kendaraan bermotor.
Jalan yang tiap hari ramai dilalui kendaraan itu disulap menjadi lokasi bazar yang menjual aneka pernak-pernik serta makanan khas etnis Tionghoa.
Berbeda dengan kirab pada tahun-tahun lalu yang diikuti berbagai Vihara di Indonesia, kali ini ritual hanya digelar internal Vihara Dharma Ramsi. Erik mengatakan, rute yang dilalui arak-arakan pun relatif lebih pendek.
"Kalau sekarang kita ada sembilan joli, tiga barongsai dan satu liong saja," tambahnya.
Dia berharap kegiatan Cap Go Meh bisa menjadi hajat masyarakat tak hanya untuk warga etnis Tionghoa, namun bisa bermanfaat bagi warga lokal.
"Sebagai ritual yang memiliki misi untuk mendoakan, saya berharap negeri ini agar kian sejahtera dan terbebas dari bencana. Yang penting negara dulu yang makmur, setelah itu baru mendoakan keluarga, leluhur dan terakhir pribadi," ucapnya.
No comments:
Post a Comment