Jenderal Besar Soeharto berbincang dengan Jenderal Besar AH Nasution, sesaat sebelum menerima ucapan selamat pada acara silaturahmi di Istana Negara, Jakarta, Minggu (5/10/2007) siang.
JAKARTA, Perwakilan Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Viva Yoga Mauladi, menilai, pernyataan yang dilontarkan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Lulung kurang tepat.
Lulung menyebut, kejatuhan Presiden Soeharto disebabkan kelompok yang mengatasnamakan komunis.
"Kurang tepatlah analisis itu. Kurang tepat," ujar Viva di kantor KAHMI, Jakarta Selatan, Kamis (2/6/2016).
"Kurang tepatlah analisis itu. Kurang tepat," ujar Viva di kantor KAHMI, Jakarta Selatan, Kamis (2/6/2016).
Menurut Viva, kejatuhan Soeharto saat itu disebabkan desakan dari
mahasiswa dan elemen masyarakat yang menginginkan perubahan di
Indonesia.
"Itu gerakan masyarakat dan mahasiswa dari pro-gerakan demokrasi yang menginginkan ada perubahan reformasi," kata dia.
"Itu bukan karena PKI. Kalau menurut saya, tidak sepakat," ujar politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
"Itu bukan karena PKI. Kalau menurut saya, tidak sepakat," ujar politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
Abraham Lunggana atau Lulung, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM), turut hadir dalam acara Simposium Anti-Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (1/6/2016).
Lulung juga mengakui, ia hadir karena merasa terpanggil sebagai anak
tentara. Dalam kesempatan tersebut, ia menyinggung kejatuhan Presiden
Soeharto yang disebabkan oleh kelompok yang mengatasnamakan komunis.
"Berhentinya Pak Soeharto merupakan kehilangan bangsa Indonesia," ujar Lulung, Rabu.
"Karena berhentinya Pak Soeharto merupakan keinginan
kelompok-kelompok masyarakat yang mengatasnamakan bangsa Indonesia,
tetapi dikendalikan negara kapitalis dan komunis," kata dia.
No comments:
Post a Comment