JAKARTA,
Aksi pekerja harian lepas (PHL) Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan
Air Dinas Kebersihan DKI Jakarta semakin menjadi sorotan masyarakat.
Sepak terjang mereka membersihkan sampah di sungai-sungai Jakarta
menampakkan hasil nyata dan diapresiasi warga.
Namun, di
lapangan, "pasukan oranye" banyak menemui tantangan, seperti peralatan
kebersihan yang minim hingga kesejahteraan yang belum mencukupi.
Asisten Koordinator UPK Badan Air Kecamatan Taman Sari, Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, Nur Hidayat kepada Kompas.com mengatakan bahwa saat ini peralatan kebersihan di Jakarta Utara mayoritas sudah rusak.
Hidayat
menuturkan, perlengkapan seperti saringan yang digunakan untuk
mengambil sampah dari sungai saat ini sudah sangat minim. Bahkan, para
petugas terpaksa membuat saringan menggunakan rangka kipas bekas agar
pekerjaan tidak terhambat.
Tak hanya itu, peralatan lainnya
seperti perahu apung yang digunakan untuk mengangkut sampah juga sudah
rusak. Ada sekitar 10 unit perahu dari berbagai ukuran yang disediakan
oleh Pemprov DKI.
Setiap harinya, untuk satu bantaran sungai,
perahu tersebut mampu mengangkut 3-4 kubik sampah per harinya. Ukuran
perahu yang digunakan yaitu 3 x 2 meter dan 6 x 4 meter.
Untuk membersihkan 11 titik sungai yang ada di Kecamatan Taman Sari jelas membutuhkan perahu yang lebih banyak.
"Karena
dipakai setiap hari, jadi cepat rusak. Kami sudah ajukan untuk
penyediaan alat-alat, tapi karena mungkin prosesnya, ya kami tunggu
saja," ujar Hidayat, Selasa (17/5/2016).
Selain itu, pembersihan
sungai juga dilakukan secara manual. Para petugas menggunakan cangkul
guna membersihkan sampah yang menumpuk di dasar sungai. Tidak ada alat
berat yang dikerahkan untuk mengeruk sungai.
Hidayat juga
menceritakan bagaimana dirinya dan 130 petugas Badan Air di Kecamatan
Taman Sari yang sampai saat ini belum mendapatkan jaminan kesehatan
seperti BPJS, padahal lingkungan pekerjaan dari petugas jelas sangat
rawan terhadap penyakit.
"Pekerjaan ini kan rawan penyakit,
untuk kesehatan kami belum megang, jadi kalau teman-teman sakit, ya
berobat sendiri. Kalau orang Jakarta ada KJS ya bisa. Tapi kalau tidak
ada ya bayar sendiri," ujar Hidayat.
Hidayat menceritakan bahwa
ada seorang petugas Badan Air yang mengalami kecelakaan saat bekerja
karena tidak memiliki BPJS, pekerja tersebut harus membayar sendiri
pengobatan yang biayanya mencapai ratusan ribu rupiah.
Badan Air
setiap hari bekerja mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Ada 7
sampai 14 petugas yang dikerahkan setiap hari untuk membersihkan sampah
tergantung dari panjang aliran sungai dan banyaknya sampah yang menumpuk
di dasar sungai.
No comments:
Post a Comment