Ketua Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al-Fatah Shinta Ratri
JAKARTA, Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Eva Kusuma Sundari angkat bicara terkait maraknya aksi kekerasan oleh kelompok radikal yang menyerang gereja, warga Ahmadiyah, Syiah, kaum LGBT dan pesantren Waria.
Selain itu, kelompok intoleran pun melakukan pelarangan beberapa
festival dan acara pemutaran film, seperti Festival Belok Kiri, Monolog
Tan Malaka, pemutaran film Pulau Buru, diskusi filsafat dan acara musik
Lady Fast di Yogyakarta.
Menurut dia, peristiwa tersebut terjadi karena polisi telah melakukan penegakan hukum berdasarkan prasangka yang dipaksakan oleh kelompok intoleran.
Ia menyesalkan polisi sudah menjadi aparat dari kelompok intoleran daripada melaksanakan perintah undang-undang.
Menurut dia, peristiwa tersebut terjadi karena polisi telah melakukan penegakan hukum berdasarkan prasangka yang dipaksakan oleh kelompok intoleran.
Ia menyesalkan polisi sudah menjadi aparat dari kelompok intoleran daripada melaksanakan perintah undang-undang.
"Polisi sudah menjadi alat perampasan hak warga negara atas dasar
prasangka kelompok intoleran yang jelas-jelas melanggar hukum," ujar Eva
melalui keterangan tertulisnya, Senin (4/4/2016).
Lebih lanjut, ia menjelaskan, peristiwa pelarangan oleh kelompok
intoleran tersebut merupakan sebuah ironi negara demokrasi yang berbasis
pada supremasi sipil.
Selain itu, kepolisian dianggap melanggar perintah Presiden untuk menindak tegas kelompok intoleran yang telah bertindak di luar hukum.
Selain itu, kepolisian dianggap melanggar perintah Presiden untuk menindak tegas kelompok intoleran yang telah bertindak di luar hukum.
"Saya meminta Kapolri mencopot aparat kepolisian yang bertanggung
jawab atas insiden di Lady Fest di Yogya kemarin. Polisi harus
menunjukkan kepatuhan pada Presiden dan menjadi pelindung HAM, bukan
sebaliknya," ungkap dia.
Lebih lanjut, Eva juga meminta Kapolri lebih serius menata aparatnya
agar lebih efektif melaksanakan perintah Presiden, mengingat tingkat
Intoleransi di Indonesia begitu tinggi.
Agak mengherankan, kata Eva, menyaksikan polisi melakukan pembiaran
terhadap pertemuan para penentang Pancasila, penyebar kebencian, bahkan
aktivitas rekrutmen untuk ke Suriah.
Sedangkan, polisi memilih melaksanakan perintah kelompok intoleran
untuk membubarkan pertemuan aktivis, seperti festival musik dan diskusi
ilmiah yang jelas-jelas sudah memiliki izin kepolisian.
"Kapolri harus segera menghentikan disorientasi dan double standard dalam kepolisian ini. Intoleransi menguat karena penegakkan hukum yang lemah," ucap Eva.
"Kapolri harus segera menghentikan disorientasi dan double standard dalam kepolisian ini. Intoleransi menguat karena penegakkan hukum yang lemah," ucap Eva.
No comments:
Post a Comment