MAKASSAR, Daging kerang hijau yang menyebabkan 63 orang keracunan, 2 di antaranya
tewas, di Desa Mallasoro, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto,
Sulawesi Selatan, pada 30 Agustus lalu, diketahui mengandung sianida dan
arsenik. Kedua zat itu berbahaya dan dapat menyebabkan kematian pada
manusia.
Demikian hasil uji laboratorium terhadap sampel daging
kerang yang menyebabkan keracunan massal di Mallasoro oleh Balai Besar
Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar.
"Hasil rapid test dan
organoleptik terhadap sampel daging kerang, baik yang telah dimasak
maupun yang masih mentah, menunjukkan positif mengandung arsenik dan
sianida. Pengujian dilakukan masing-masing tiga kali untuk setiap sampel
dan hasilnya selalu sama," kata Kepala BBPOM Makassar Muhammad Guntur,
Selasa (6/9).
Dia mengatakan, kedua zat itu seharusnya tidak
dikonsumsi manusia karena membahayakan tubuh yang dalam kadar tertentu
dapat menyebabkan kematian. "Gejala yang ditunjukkan korban keracunan di
Jeneponto, yakni pusing dan mual, juga sama dengan ciri-ciri keracunan
arsenik dan sianida," ujarnya.
Saat itu, semua korban selamat
juga mengeluhkan pusing, mual, dan bibir kaku setelah mengonsumsi kerang
hijau yang biasa mereka dapatkan di pesisir desa.
Guntur
mengatakan, pihaknya tengah membuat surat untuk Pemerintah Kabupaten
Jeneponto terkait temuan tersebut. "Kondisi ini harus diwaspadai oleh
pemerintah dan warga di sana agar untuk sementara waktu tidak
mengonsumsi kerang dari pesisir desa," katanya.
Secara terpisah,
Kepala Seksi Pengamatan Penyakit Tidak Menular dan Surveilans Dinas
Kesehatan Jeneponto Suryaningrat mengatakan, pihaknya belum menerima
hasil uji sampel kerang dari BBPOM Makassar. "Warga Mallasoro masih
dilarang untuk mengonsumsi hasil laut dari desa itu," katanya.
Guru
Besar Toksikologi Laut Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas
Hasanuddin, Makassar, Akbar Tahir mengatakan, arsenik terdapat dalam
batuan cadas. Ada kemungkinan arsenik terkikis ke laut saat air tanah
dieksploitasi secara berlebihan. Adapun sianida dapat berasal dari
aktivitas penangkapan ikan yang menggunakan bius potasium sianida.
"Untuk
mengetahui penyebab pasti sumber arsenik dan sianida itu perlu kajian
mendalam karena banyak variabel yang harus diperhitungkan," kata Akbar.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Sulsel Andi Hasbi Nur mengatakan, pihaknya telah menerjunkan tim pakar ke Jeneponto.
No comments:
Post a Comment