BANDUNG, Kampung Cijanggot, Desa Cisaladah, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten
Purwakarta menolak mengimunisasi anaknya. Mereka menganggap imunisasi
haram.
"Ada anggapan imunisasi haram. Tapi sejak ada kejadian satu anak
meninggal karena difteri, warga berbondong-bondong datang ke Posyandu,"
ujar Kepala Desa Cisaladah, Endang Supriadi di Purwakarta, Kamis
(15/9/2016).
Endang menjelaskan, fatwa haram dikeluarkan salah satu tokoh di
daerahnya beberapa tahun lalu. Sejak tokoh itu meninggal, anggapan haram
mulai berkurang. Namun, dampak untuk tidak mengimunisasi anaknya masih
terjadi.
Kepala Dinas Kesehatan Purwakarta, Anne Hediana mengatakan, satu
kampung tersebut terdiri dari 2 RT, dengan capaian imunisasi hanya 66
persen. Keberhasilan KB di kampung tersebut pun rendah.
Salah satu warga yang anaknya terkena difteri, berusia 45 tahun
memiliki sembilan anak dan sudah mempunyai cucu. "Mereka tinggal di
rumah yang kurang layak," tuturnya.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengaku selalu mensosialisasikan program imunisasi. Selain Posyandu, kerap dilakukan visiting. Namun, warga tetap tidak mau.
"Malah saat PIN (Pekan Imunisasi Nasional) Agustus 2016 kemarin,
mereka mengunci rumahnya. Petugas PIN berkeliling dan menggedor-gedor
rumah warga, tidak ada yang keluar," terangnya.
Sebenarnya, sambung Dedi, jauh sebelum zaman refolusi, kampung ini
memang berbeda. Mereka kerap menolak program pembangunan pemerintah
karena berbeda dengan cara berpikir mereka.
"Program pembangunan relatif ditolak. Kalau ada spanduk berisi imbauan, langsung dicopot atau digunting," ucap dia.
Apalagi sejak zaman kepemimpinannya. Ada beberapa orang yang
menganggap dirinya kafir sehingga tidak setuju dengan beberapa program
pemerintah.
Berita sebelumnya, enam anak Kampung Cijanggot, Desa Cisaladah,
Kacematan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta terserang difteri karena
tidak mengikuti imunisasi DPT. Satu dari enam anak tersebut meninggal di
RSHS Bandung.
No comments:
Post a Comment